RSS

Arsip Kategori: Rupa-Rupa Kehidupan

Februari (awal): Istarafm, Pokka New Greentea, Tiket seminar Ippo Santosa,

“Ya Allah, jika Engkau mengijinkan dan menurutMu akan membawa manfaat bagiku, aku ingin ikut seminarnya Ippo Santosa sabtu ini”

Bulan februari ini daftar pengeluaran cukup banyak, karena harus bayar SPP dan beberapa tagihan. Kalau mau ikut seminar, rasa-rasanya agak berat juga, mengingat harga tiketnya hampir setengah dari uang jajan bulanan saya.  Tapi saya pengen. Apalagi setelah baca bukunya, 7 Keajaiban Rejeki yang saya beli di Jogja sama Tegas Januari kemaren. Jadi tambah-tambah mupeng 😦

Saya ingin, tapi tidak “ngoyo”. Yang pasti, saya tetap berusaha untuk mendapatkan uang tambahan, yah biar saldo di tabungan tetep aman. Hanya saja, kembali pada doa saya, jika Allah mengijinkan dan jika menurutNya akan memberikan manfaat, maka ijinkanlah. Saya berserah dan tidak lupa menyelipkan sedikit doa dalam setiap sholat.

Pendaftaran tinggal 2 hari lagi, sedangkan saya belum mendapatkan sepeser pun uang tambahan. Pesimis? entahlah, sepertinya belum. Saya kan sudah bilang, g terlalu “ngoyo”, jadi apapun hasilnya, disyukuri saja.

Rabu, 1 Februari pukul 9 pagi. Saya yang waktu itu masih malas-malasan untuk ngampus, mendapatkan telepon dari nomor yang belum tersimpan, nomor rumah, kode surabaya.

“Selamat pagi, Nurma ya?” suara di seberang mulai menyapa. Pikiran saya mulai berputar, yang memanggil saya dengan panggilan Nurma hanya orang rumah (keluarga) dan teman kecil saya saja. Tapi suara laki-laki di seberang t kunjung saya kenali.

“Iya? ada yang bisa saya bantu?” memberi jawaban seformal mungkin adalah cara terbaik untuk menanggapi telepon tak dikenal.

“Nurma, ini dari istarafm. Hadiah kamu kok belum kamu ambil?”

Istara? well, saya baru ingat, kalau ikutan acara di radio, saya lebih sering menggunakan nama Nurma.

“Lho, sudah saya ambil tuh.” Sebulan yang lalu saya (alhamdulillah) dapet HP juga dari istara (dan sponsor tentunya)

“Kapan?” suara di seberang tampak bingung.

“Januari tgl 9. Dan barangnya sudah saya ambil di galeri sekitar 2 minggu yg lalu”

“Bukan yang itu, kamu kan menang kuis Poka. Hadiahnya uang tunai, lumayan lho. Kapan kamu bisa ambil?”

Saya speechless. G bisa mikir. Kuis poka? Yang mana ya itu? Saya lupa.

 

Saya berjanji akan ke istara jam 2 siang. Masih lama. Eh, tapi saya lupa bertanya nama orang yg menelepon tadi. Gimana kalau saya ditipu? Apalagi saya sudah menyimpan beberapa nomor telepon istara, tapi kali ini beda lagi.

Next, saya googling no telepon tsb. Ternyata memang istara. Kemudian lanjut googling ‘kuis poka istarafm Surabaya’.

Tidak menemukan titik terang.

‘Kuis pocari istarafm’, muncul link 2 tahun yg lalu.

Saya tidak mendapatkan informasi apapun. Saya pun mengecek sms, barangkali masih tersisa file-file terkirimnya. Baru ingat, semalam saya baru bersih-bersih inbox(inbox dan outbox jadi satu). haduh

 

Jam 2 kurang, saya menelepon mbak Dita untuk konfirmasi kalau mau ambil hadiah. Kali ini suara mbak Dita lebih ramah dan beliau menunggu saya untuk segera datang.

Saya bersemangat, sangat!. Gimana enggak, lha wong mau ambil hadiah, duit lagi J

Sampai komplek ruko istara, sempat menyapa pak parkir yang baik hati (karena bantuin saya parkir), lanjut ke pak satpam. Nunggu 2 menit dan langsung disuruh naik ke lantai 2, menemui mbak Dita.

“Fotokopi KTPnya?” saya menyerahkan 2 lembah fc KTP. Mbak Dita mencocokan dengan data sejenak. “Bukannya kamu yg menang HP kemaren yah? Kok familiar sama namamu”

Saya Cuman senyam-senyum saking senangnya.

Form pengambilan hadiah saya isi disambi ngobrol sama mbak Dita. Beliau ramah banget lho. Ambil hadiah uangnya di ruang sebelah dan dapat 4 buah produk sponsor. Kebetulan saya sedang puasa, jadi 1 produk yg harus diminum di istara, khusus saya berikan buat mbak Dita. Sisanya saya kasih ke pak parkir, salma dan saya sendiri.

Oya, ternyata Poka ini produk teh. Yang bener tulisannya Pokka, Pokka New GreenTea. Sejujurnya, saya lupa, kapan saya ikut kuisnya. Tapi melihat data yang ada di daftar pemenang, semua benar data milik saya.

Masih dalam suasana terharu, speechless saking senangnya, tidak lupa saya bersyukur. Uang hadiah tersebut sudah cukup untuk membeli tiket seminar. Pokka dan istara adalah perantara Allah untuk memberikan rejeki tsb untuk saya. Terimakasih Ya Allah (istara dan Pokka juga )

Allah selalu punya cara memberikan kejutan untuk kita. Seindah-indahnya rencana kita, jauh lebih indah rencanaNya.

Misi selanjutnya adalah membeli tiket. Alhamdulillah walau sudah mepet, masih dapat tempat. Seminar Ippo kali ini memang tidak berbeda jauh dari isi bukunya, tapi tetap ada moment-moment yang bikin terharu serta memberikan banyak manfaat.

Semoga, saya tetap bisa konsisten mengamalkan apa yang sudah di dapatkan dari seminar tersebut. Amin

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Februari 2012 in My Life, Rupa-Rupa Kehidupan, Sepenggal kisah

 

Tag: , ,

Sebuah teguran

Pernah merasa iri terhadap seseorang? Saya rasa hampir semua orang akan menjawab iya, begitu pula saya.
Sikap iri kadang muncul ketika orang lain memiliki sesuatu yang tidak kita miliki. Tapi percayalah, sikap iri pada akhirnya justru membuat kita sakit sendiri.
Beberapa hari yg lalu saya SMSan dengan salah seorang sahabat lama saya. Pokok bahasannya hanya masalah “pernikahan”. Tapi justru dari sinilah saya diingatkan, bahwa ada banyk org yg jauh kurang beruntung daripada saya.
Gak nyambung bukan? Tapi Tuhan benar-benar “menegur” saya.
Sahabat saya ini hanya menanyakan hal-hal yg pengen saya lakukan seblum menikah. Setelah menjawab seperlunya, saya pun bertanya tentang motifnya menanyakan hal tersebut.
Ternyata sahabat saya ini merasa dalam 22tahun hidupnya belum mencapai apa yg dia inginkan. Masih banyak hal-hal yg ingin dicapai, tapi keadaan memaksanya untuk menunda keinginannya.
Sahabat saya ini seorang perempuan, 22 tahun, anak pertama, seorang kakak tentunya, kuliah dan bekerja serta bertanggung jawab penuh atas ayah dan adik laki-lakinya. Ibu sahabat saya ini bekerja menjadi TKW, sehingga urusan rumah menjadi tanggung jawabnya.
Selama ini dia harus bekerja di salah satu LBB untuk membiayai kuliah+kebutuhannya. Setelah lulus SMA, dia harus bekerja terlebih dahulu untuk membayar uang gedung dan sebagainya.
Jujur, sebagai seorang sahabatnya, saya cukup bangga. Setidaknya selama ini dia sudah menjadi seorang anak yg mandiri dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.
Darilatar belakang sahabat saya inilah yg membuat saya tersadar. Sesulit-sulitnya hidup saya, masih banyk orang yg jauh lebih sulit hidupnya daripada saya.
Mempunyai rasa iri terhadap seseorang membuat saya malu di hadapan Tuhan. Karena iri termasuk salah satu sikap dimana kita tidak mensyukuri apa yg telah kita miliki.
Harusnya saya lebih sering bersyukur, karena Tuhan telah mencukupkan segala sesuatunya untuk saya. 
Mari belajar dari cerita ini. Ketika kita iri terhadap seseorang, segera ingatkan diri bahwa ada orang-orang yg jauh kurang beruntung daripada kita. Syukuri apa yg telah diberikan Tuhan, maka nikmat kita pun akan bertambah. Bukankah seperti itu janji Tuhan?

nb untuk sahabatku :
yakinlah Allah akan membalas semua baktimu pada orang tuamu. Semoga doa dan harapanmu segera terkabulkan. Amin

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Januari 2012 in My Life, Rupa-Rupa Kehidupan

 

Ternyata saya masih terluka..

Seharian kemaren saya stuck banget rasanya. Banyak yang pengen ditulis, tapi ketika menyentuh laptop, rasanya bingung mau nulis apa. Hari ini awalnya juga tidak berminat untuk ngeblog, hanya saja setelah mampir ke fb, ngecek friend request, notification dan beberapa status temen, tiba-tiba saya menemukan sesuatu yang membuat perasaan saya sedikit apa yah, terluka.

Seseorang yang sebenarnya sudah saya kenal, mengirimkan friend request di FB saya. selama ini saya sudah cukup menghindar dari orang ini. Bukan karena apa-apa, tetapi saya punya pengalaman yang sedikit menyakitkan. Saya sudah berusaha untuk memaafkan. Apalagi mungkin beliau tidak bermaksud mengatakan hal yang menyinggung perasaan saya. Ya, beliau. Seseorang yang mengirim friend request tsb seumuran dengan ibu saya. Saya pernah menganggap beliau sebagai orang yang cukup bijak, mengerti agama dan seseorang yang bisa dituakan. Tapi kejadian yang sangat tak terduga itu memang pernah terjadi. Menyisakan sebuah luka bagi saya.

Kita semua tahu, tidak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini, tapi baik beliau, kamu atau siapapun anda, tidak punya hak untuk menyalahkan ketidaksempurnaan seseorang atas nasib yang menyertai orang tsb. Tidak ada satu pun manusia yang menginginkan sebuah kekurangan.

Saya hanya manusia biasa. Perasaan saya juga bisa terluka. Maafkan saya jika sampai saat ini saya belum bisa melupakan. Semoga Allah segera menghapuskan rasa sakit saya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Januari 2012 in My Life, Rupa-Rupa Kehidupan