RSS

Arsip Kategori: Fiksi

“Kembalilah padaku!”

“Kembalilah padaku!”
Entah sudah brapa kali kamu mengucapkan kata itu.
Ini sudah lewat 8 bulan semenjak kita, bukan, aku tepatnya, memutuskan untuk berpisah, tapi kamu masih tetap keukeuh dgn perjuanganmu meyakinkan diriku.

Tiap kali kau memintaku kembali, aku pun ingin menjawab iya.
Tapi apakah itu akan menyelesaikan sgala permasalahan diantara kita?
Tidak!

Aku dan kamu akan kembali melewatkan hari bersama, menuliskan banyak cerita, hingga pada satu titik, kita akan dihadapkan kembali pada permasalahan yg serupa.
Kita berargumen, saling bertahan dgn pendapat masing-masing, dan sadarilah, ada pendapat yg tidak bisa kita satukan, karena kita beda tujuan.

Pada akhirnya kita akan memilih untuk berpisah lagi bukan? lalu sampai kapan kita akan berada dalam keadaan seperti ini?

Kembali padamu hanyalah menunda waktu untuk kehilangan.
Kemudian aku dan kamu akan kembali terluka, sama seperti 8 bulan yg lalu.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Juli 2012 in Fiksi, Random

 

Tag:

Sepi, sendiri

Aku merindukan sepi
kemudian tanpa kusadari aku sudah berada disini
sendiri

Aku sudah seharian berjalan tak tentu arah
Menghabiskan semua tenaga yang aku punya
Lalu aku menyerah
Lelah

Aku memutuskan berhenti
Walau aku masih menerka-nerka apa yg sedang kucari
Sayangnya tiada kutemukan jawaban yang pasti
Barangkali lebih baik aku menyendiri

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 April 2012 in Fiksi, Random

 

Jadi Kapan Aku Boleh Bilang Cinta Padamu

Aku tak tau, seperti apa kisahmu dulu. Mungkin dia menyakitimu atau sebaliknya kamu yang menyakitinya. Aku tak peduli. itu masa lalumu. Sesuatu yang tak mungkin kembali walau kamu menangisinya. Dia tetap sesuatu yang telah berlalu.

Aku tak tau, akan sejauh apa kamu akan mencari pelarian. Sadarlah, kau sudah tertinggal begitu lama. Dan aku disini bersamamu tanpa aku mampu menyadarkanmu bahwa waktu telah berlari jauh meninggalmu.

Kamu bisa saja bersikap sok tegar dan seolah-olah semua telah berlalu. Tapi aku tau, kamu masih sering menangis dan membiarkan perasaanmu larut dalam sedihmu.

“Aku baik-baik saja. Yang kemaren udah lewat kok.” aku sudah mendengar jawaban seperti itu berkali-kali

Aku tak yakin.

“Percayalah, aku sudah melupakannya. Dan terimakasih, kamu slalu ada disampingku slama ini.”

Karena aku mencintaimu, kamu tau itu sejak dulu. Tapi kamu pura-pura tak tau dan tak pernah menganggapku ada. Kadang hal itu yang membuatku tak yakin kamu sudah benar-benar move on.

“Masih tidak yakin juga?” sepertinya kamu memang tau bagaimana membaca pikiranku.

“Hm.. sedikit tidak yakin. tapi aku ingin percaya kalau kamu sudah bener-bener move on”

Kamu hanya tersenyum dan entah kenapa senyum itu berhasil meyakinkanku.

“Jadi, kapan aku boleh bilang cinta padamu?”

“sekarang juga boleh 🙂 ”

 

nb : cerita fiktif dan sedikit maksa 😀

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Maret 2012 in Fiksi, Random

 

Tag: