RSS

Arsip Bulanan: Desember 2012

Selamat Ulang Tahun Serapium (@kaskus66)

28 Desember 2012
22.30, di kamar

Selamat ulang tahun Serapium 😀
Lama banget nggak maen kesana. Paling cuma mampir baca-baca dan kemudian pergi lagi tanpa jejak.
Huah, g terasa ya udah 1 tahun.
Seperti yg bunda Luna bilang, ada banyak cerita disini. Banyak bgt.
Saya sendiri gabung dengan Serapium saat anggotanya masih dibawah 50an.
Masa-masa dimana saat itu masih sepi banget.
Lalu muncullah orang-orang yg terlihat sangat berdedikasi dgn forum ini. Adit, Om Dhan, Bunda Luna, Mbak Dewi dll.
Saya sempat heran dengan loyalitas mereka di dalam forum ini. Tapi yg saya rasakan disini adalah sebuah keluarga besar yg dekat satu sama lain.
Walau jarang ketemu, tetep aja saya merasa dekat.
Menyenangkan mengenal mereka semua.
Mau pinjem buku gratis? ada.
Mau sharing? tentu ibu-ibu Serap siap sedia ngedengerin.
Mau tanya-tanya? Pasti bakal dijawab sama ahlinya.
Semua ada.

Disinilah saya bertemu keluarga baru
Disinilah saya kenal teman-teman baru
Disinilah saya bertemu dengan kamu
Semoga Serapium makin rame, makin memberikan manfaat dan makin dikenal. Amin.

Posted from WordPress for Android

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 Desember 2012 in Buku

 

Tag: ,

Sukses itu seperti apa sih?

Tiba-tiba pertanyaan itu menggelitik pikiran. Maklum, makin malam, makin sepi, pikiran suka lari kemana-mana. Apalagi beberapa waktu yang lalu sempat ngobrolin soal kerjaan dengan Abang. Jawabannya atas pertanyaan saya benar-benar membuat saya berfikir ulang. Merevisi sudut pandang dan rencana jangka panjang saya.

Kebanyakan orang memandang seseorang itu sukses jika dia bisa punya jabatan, kerja di tempat yang wah, kekayaan melimpah dsbnya. Tapi apa iya semua harus diukur dengan materi, jabatan dan pekerjaan?

Kalau ditanyain dulu, kenapa saya memilih marketing sebagai konsentrasi yang saya pilih, alasannya sih sederhana, karena saya suka. ilmunya terus berkembang seiring dengan perilaku konsumen dimana ilmu itu berada. selain itu ketiga konsentrasi lain g cocok dengan otak dan kepribadian saya.
Emang mau jadi apa kok milih jurusan marketing? paling juga sales! Banyak kok yang ngomong kayak gitu. Tapi semakin mereka ngomong gt, mereka justru terlihat makin g paham apa itu marketing. Sales dan marketing itu beda. walau sales termasuk di dalam marketing. Sales hanya berkutat pada menjual barang, sedangkan marketing adalah proses keseluruhan, dari awal pengenalan produk, membangun citra produk, penjualan dan sampai pada meyakinkan konsumen bahwa mereka telah memilih produk yang tepat. Menurut saya marketing itu kreatif.
Balik lagi ke awal. Setelah saya masuk marketing, apa sih yang ingin saya capai kelak? Saya ingin jadi seorang marketer. Yaiyalah, jelas itu. Yang saya tuju adalah industri kreatif sebenarnya. Saya ingin sekali bergabung di perusahaan advertising dan berkutat pada pembuatan iklan, pengenalan produk baru dll. kerja kantoran yang menurut saya menuntut kita untuk terus berproduksi secara kreatif. Jadi otak nggak nganggur, dan bosen kerja itu-itu aja.

Lalu semua mimpi saya itu berubah seiring dengan waktu. Ada banyak pertimbangan sebelumnya. beberapa keadaan membuat saya berfikir ulang.
Saya terbiasa dididik disiplin sejak kecil. terlebih sejak ayah saya meninggal, saya dituntut untuk lebih mandiri dibandingkan anak seusia saya dulu. Lalu selang 4 tahun terakhir, saya tinggal bersama saudara saya yang memiliki anak kecil (usia 1 dan 5 tahun). Saya melihat adanya perbedaan yang cukup signifikan terhadap cara mendidik anak. Ada beberapa pelajaran yang akhirnya membuat saya berkata. ‘jangan sampai anakku nanti seperti ini, jangan sampai nanti aku terlalu sibuk bekerja dan anakku g ada yg ngurus, dll’
Bukankah kesuksesan orang tua itu diukur dari seberapa berhasil mereka mendidik anak mereka?
Akhirnya saya memutuskan, jika nanti saya punya anak, saya ingin fokus membesarkan mereka. Soal pekerjaan, itu nomor 2. Toh bekerja kan bukan tanggung jawab istri. Saya juga bisa memilih bekerja dirumah tanpa harus meninggalkan anak saya.

Berikutnya soal hasil pembicaraan dengan Abang. Saya pernah iseng bertanya. Nanti kalau udah nikah, dia akan mengijinkan saya kerja kantoran atau enggak? Katanya sih terserah saya. Tapi, kalau dia dialih tugaskan ke kota lain, saya harus ngikut. “Itu artinya nggak ada jenjang karir buat kamu. soalnya kamu harus ngikut aku.” begitu katanya.
Saya speechless. Agak kecewa. Padahal saya punya obsesi suatu saat nanti ada profil saya di majalah Marketeers 😛 (ngayal aja kok, kan gratis, g bayar, g ada yg nglarang juga).
Oke-oke, akhirnya saya toleransi aturan itu. Beberapa planing saya ubah. Sudut pandang kesuksesan juga saya geser sedikit.

Abang pernah bilang kalau mendingan saya buka usaha apa gt. usulan ini saya pertimbangkan. tapi semua perlu proses. Saya masih berencana kerja kantoran atau di advertising, mungkin 1-3 tahun (waktu yg fleksibel). Selama selang waktu itu saya ingin menjalin relasi, mencuri ilmu dan siapa tahu bisa bermanfaat bagi usaha saya kelak.

Definisi sukses menurut saya adalah dimana saat saya bisa mencapai apa yang saya inginkan. Disini bisa berarti kalau saya cuma ingin punya perusahaan kecil tapi milik pribadi, trus saya benar-benar punya, itu artinya saya sudah sukses.
Definisi sukses itu tergantung pribadi yg menjalani kok. Sebelum kita menjudge seseorang belum sukses, coba tanyakan kepada mereka, bagaimana menurut sudut pandang mereka.
Menurut saya pribadi, kerja di perusahaan terkenal atau pun cuma punya usaha kecil dengan 5 karyawan, semuanya sama-sama sukses kok.
Yg satu, bisa sukses bersaing dengan calon yg ingin masuk di perusahaan tsb. Yang satunya lagi, walaupun usahanya kecil dan punya 5 pegawai saja, tapi dia sukses menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Setidaknya ia punya 5 orang yang bergantung pada penghasilan usahanya.

Mari kita ukur sukses menurut diri kita masing-masing. Setiap orang punya target pencapaian yang beda-beda.
Sukses sebagai anak : membahagiakan kedua orang tua dan mendoakan mereka
Sukses sebagai orang tua : melihat anaknya tumbuh menjadi anak yg sholeh/shalihah, berbakti dan berhasil
Sukses dalam pekerjaan : ukurlah dengan ukuranmu sendiri.

So, ukuran suksesmu apa?

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Desember 2012 in Random

 

Tag:

curhat di siang yang galau

Lagi penat parah. Biasanya kalau lagi duduk di ruangan ini bawaannya adem, tenang dan jelas ACnya bikin nyaman buat lama-lama duduk. Sekarang sih memang cukup nyaman, g ada yang ganggu. Semua pada sibuk dengan kerjaannya masing-masing. Yah, sesekali kita saling bertegur sapa.

Tapi makin siang pikiran makin g fokus dengan apa yang dikerjain. Mau lanjut, udah buntu. Kadang ada rasa hoppeles. G yakin aja semua kerjaan ini bakalan kelar sesuai dengan deadline. Mana si bos hampir tiap pagi ngingetin. Oke, ini memang tanggung jawabku.Tapi… (udah speechless mau bikin pembelaan lagi). Balik lagi ke awal mula sumber masalah, Aku! Semua prediksi memang agak meleset dari ketentuan semula. Salahku sih. Harusnya aku bisa jauh lebih semangat ngerjainnya dan kerjaan bisa kelar sesuai dengan deadline.

Kalau mau ditelaah lagi, semua alasan akan nyambung satu sama lain. Semua masalah mungkin cuma bersumber pada satu alasan yang jelas. itu cukup aku aja yang tahu. walau kadang aku sangat ingin berbagi dengan orang lain, kurasa Tuhan sudah cukup bagiku untuk menjadi pendengar atas masalahku.

Pikiran sekarang pecah jadi 2. Sejujurnya aku bingung bagaimana aku harus membagi waktu. Kedua-duanya jadi tanggung jawab yang cukup berat. Bedanya, yang satu aku harus benar-benar berjuang sendirian dan yang satunya aku harus bekerja secara team. Aku udah cukup semangat ngerjain tugas yang pertama. trus yang kedua?

Harusnya tugas yang kedua bisa lebih ringan, karena dikerjain secara team. tapi… (okeh, mau bikin pembelaan lagi)
Ibarat sebuah acara, pasti ada ketua acara, ada pihak sponsor dan ada anggota yang akan didaulat untuk bikin acara. Posisi saya, hm apa ya? Ketua acara aja deh. Permasalahannya adalah, ketika antara ketua acara dan anggota g ketemu titik temu konsep yang diinginkan. Well, harusnya ini jadi acaraku, tapi tentu aku masih butuh anggota yang lain untuk mendukung kelancaran acaraku. Aku jadi dilema untuk maksain konsep yang ada di benakku. masalah jadi makin rumit ketika pihak sponsorship ikut-ikutan pengen terlibat dalam acara ini.
mau ngelarang, g bisa juga. secara mereka yang nanggung dananya. Bermula dari konflik inilah aku jadi lumayan males buat ngerjain progres ini. Aku g bilang konsepku bagus sih. cuman, karena aku sebagai ketua acara, harusnya aku punya hak lebih untuk memutuskan. Harusnya lain kali kalau mau ngadain acara, jangan 100% dana ditanggung oleh sponsorship. Ntr mereka ngerasa punya hak buat nentuin jalannya acara.

Hufh,.. buat yang sering nanya gimana progresnya dan aku cuma senyum doang, sekarang jadi tau kan alasannya kenapa aku ogah-ogahan buat ngehandle acara itu

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Desember 2012 in My Life

 

Tag: , ,