RSS

Arsip Bulanan: Februari 2012

sebuah permintaan maaf

“Jangan pernah menuntut kejujuran dari dunia maya”

Gara-gara tweet saya itu, orang yang saya kagumi, jadi salah paham terhadap saya. tapi mungkin dia benar, saya yang salah.

Saya kenal dengan dia sekitar satu tahun yang lalu. waktu itu saya pinjem buku dengan yang bersangkutan. Pertama kali ngobrol, dia nanyain alamat dan kemudian saya pun membalas, “ongkirnya gimana?”. Dengan santainya dia menjawab, “aku pakai pengiriman kantor kok. g usah diganti.”

Kesan pertama, orang satu ini baik banget. Selanjutnya yang saya tau, dia memang baik terhadap semua orang.

Kekaguman saya semakin bertambah ketika dia berdebat dan memberikan penjelasan yang panjang dan jelas bahwa tuduhan terhadap Nabi Muhammad yang dianggap pedofil itu salah. Dari tulisan dan cara debatnya, dia udah kelihatan banget berwawasan luas.

Hingga suatu ketika, saya bertemu dengan teman-teman yang lain, dan kebetulan juga penasaran dengan sosoknya. Alasan penasarannya sama, “karena orang ini terkenal sangat baik”. Maka kita pun ngepoin orang yang kenal langsung sama dia. Hasilnya, ternyata dia punya nama aslinya yang tidak kita tahu.

Setelah saya tahu nama aslinya, yg terpikir di benak saya saat itu cuma satu. Mungkin yang bersangkutan tidak ingin identitas sosialnya diketahui oleh teman-temannya(mungkin aja dia anaknya presiden, anaknya menteri, anak keraton atau anak konglomerat). satu point lagi untuk dia, Rendah hati!

Tiga kali orang ini membuat saya terkagum-kagum.

Kadang karena kekaguman itu, saya jadi sedikit ingin tau tentang dia. Disaat saya ngobrol dengan teman-teman yg lain, yang sangat dekat dengan dia tentunya, saya bertanya mengenai account fbnya dengan nama aslinya. Tapi saya tidak menemukan jawaban yang jelas. ya sudah. saya mentok.

Disini saya mengaku salah. mungkin sikap saya yang sedikit berlebihan ini mengganggu dia.

Tapi siapa pun sebenarnya dia, yang saya tahu dia orang yang baik.

 

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 Februari 2012 in Random

 

Kamu bilang aku jahat

Aku membaca sebuah pesan yang masuk di inboxku. Namamu..
Rasanya lama sekali aku tidak melihat namamu muncul di inboxku. Mungkin sudah 3 bulan ini. Sejak kamu memilih untuk menjauh dariku
Aku tak tahu alasanmu mengirim pesan itu. Mungkin hanya untuk sekedar menyapaku, atau diam-diam kamu merindukanku? Ah sudahlah, itu semua hanya pikiranku yang mencoba untuk menebak-nebak maksudmu.
Pembicaraan kita di sms jadi sedikit canggung, tak lagi seperti dulu.
Berulang kali aku mencoba untuk mencairkan suasana itu. Berharap kita bersahabat seperti dulu.
“Kau tau, aku merindukan kita seperti dulu daripada membahas masalah hati seperti ini”
Kau bilang keadaan telah berbeda dan aku berusaha mengerti.
by the way bukumu jadi aku pinjem ya?” aku mengalihkan pembicaraan
“Ambil ke kostan gih. Siapa yg butuh”
“Ih…jahat.”
“Loh kok jahat? Kamu juga yang jahat sama aku”
“Aku jahat kenapa?”
“Karena kamu tidak memilihku”
Dan kemudian hening. maafkan aku

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Februari 2012 in Fiksi

 

Tag: ,

Mengurus Tilang di Surabaya

Tepat 2 minggu yang lalu, Sabtu 4 Februari 2012, saya kena tilang di daerah Basuki Rahmat. Ceritanya saya waktu itu mau ke Gramedia Expo untuk ikut Seminar Ippo Santosa pukul 07.30. Awalnya saya lewat Jalan Karimun Jawa sampai ke daerah Jendral Sudirman. Trus setelah 3-5 detik di lajur kiri, dengan PDnya saya nyebrang ke arah kanan, mau muter di Basra. Belum sampai muter, udah ketilang duluan.

Waktu dihentikan polisi, saya bingung. Kenapa yah? Helm oke, surat-surat lengkap, lampu depan nyala, apa lagi?

Terjadi tanya jawab beberapa saat. Dan dengan tenangnya saya sok innocent banget jawab pertanyaan Pak Polisinya. Ternyata kesalahan saya adalah melanggar marka yang ada. G boleh motong jalan, harusnya lurus. (hampir 4 tahun saya di SBY, baru kali ini saya ketilang di daerah itu)

“Sidang mbak?”

“Iya deh Pak. Saya telepon tante sebentar ya. Biar SIM saya diambilin ntar.” saya langsung sibuk mencari no HP tante.

“Eh Mbak, nama tantenya siapa?” Pak Polisi tsb sampe menghentikan kegiatannya mengisi slip tilang dan bertanya sedikit serius.

Saya tidak menjawab. Sibuk berbicara sama tante. Sebenarnya saya sedang berusaha dengan keras mengingat kenalan tante yang merupakan salah satu petinggi polisi di SBY. Sempat dulu ketilang juga, tau-tau semua beres. Sayangnya karena saya berbicara di depan polisi, g mungkin jg kan tanya. Yaudah, tilang aja daripada bayar Rp. 51.000,- . SIM saya disita, dijepret sama slip tilang 😦

Gara-gara acara tilang ini, saya agak terlambat datang ke seminar.

Tgl 17 Februari 2012, Pengadilan Negeri Surabaya (Jalan Raya Arjuna 16-18)

Jadwal sidang saya pukul 8 pagi. beberapa teman menganjurkan saya untuk datang lebih awal, karena antrinya banyak. Saya pun mengikuti saran tsb. 15 menit sebelum pukul 8 saya sudah di Jlan Raya Arjuna. Sambil mengamati kanan kiri jalan, ternyata Pengadilan Negeri SBY ada di sebelah lajur kanan (saya dari arah Jln Tidar).

Karena hari itu hari Jumat, maka sudah sangat wajar kalau ada aktivitas senam aerobik bagi para pegawainya. Otomatis semua pintu gerbang ke pengadilan masih di tutup dan orang-orang tertahan di luar pagar. Oke, saya ikut menunggu di luar.

Sebelum berangkat, mbak kamar sebelah saya sudah berpesan agar saya tidak menerima jasa calo. karena pasti banyak yang nawarin, apalagi perempuan yang sering g mau ribet. Untungnya hari ini g ada calo yang menghampiri saya. Gimana enggak, penampilan saya hari ini meyakinkan banget 😛

Pukul 08.15 pintu gerbang dibuka dan hampir 500-700 orang berebut masuk. Langkah selanjutnya adalah :

  1. Temui satpam atau bagian informasi dan tunjukan slip tilang/sidang
  2. Petugas informasi akan memberitahukan ruang sidang sesuai permasalahan
  3. Cari ruangan dan segera kumpulkan slip tilang/sidang di meja/petugas yg mengumpulkan slip
  4. Carilah tempat duduk yg plg mudah untuk mobile ke depan hakim
  5. Tunggu sidang dimulai dan nama kita disebut
  6. Ketika nama disebut, maju ke hadapan Hakim, dan beliau akan menyebutkan nominal denda yg harus kita bayar
  7. Pergi ke loket  dan bayar denda (tadi saya bayar Rp 31.000,-)
  8. Proses selesai

Prosesnya sih sebenernya tergolong cepet, hanya saja nunggu antriannya yg lama. Semoga lain kali tidak pernah datang kesini lagi. Menurut saya, sidang adalah pilihan yang paling tepat daripada damai dengan petugas. Tapi pilihan tetap ditangan setiap individu kan?

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Februari 2012 in Random

 

Tag: ,