RSS

Arsip Bulanan: November 2011

Buku : Catatan Hati Seorang Istri

Judul : Catatan Hati Seorang Istri

Pengarang : Asma Nadia

Penerbit : Asma Nadia Publishing

Harga : Rp 55000,-

Rada uring-uringan karena sempet nyari beberapa buku yang tidak saya temukan di Toga Mas atau Rumah Buku. Akhirnya untuk mengisi waktu, iseng-iseng pinjem buku adek angkatan. Catatan Hati seorang istri

Awalnya sih mikir, masak iya, harus baca buku ini?!

Buka halaman pertama, kedua dan seterusnya, ternyata saya g bisa berhenti. Pengennya lanjut mulu.

Buku ini sederhana, menceritakan kisah-kisah seorang istri yang tetep berusaha menjaga keluarganya walaupun sering kali disakiti oleh suami. Banyak cerita yang inspiratif. Bagi saya, yang paling menyentuh adalah kisah Aki dan Ene’ (kakek dan nenek) yang bener-bener tetep romantis walau umur sudah masuk angka 80 thn. Tapi selama perjalanan pernikahan mereka, bukan berarti tanpa badai. Aki pernah menikah diam-diam semasa mendapatkan tugas di Sumatra. Menyakitkan memang, tapi si Ene’ bisa memaafkan dan memandang kesalahan Aki sebagai cara Tuhan untuk menjawab semua doa Ene’. Kok bisa? Silakan membaca sendiri.

Buku ini memang menceritakan sedikit banyak cerita hitam dibalik indahnya pernikahan. Tapi dijelaskan pula, kenapa seorang wanita lebih banyak bertahan dan melayani suami sebaik mungkin. Wanita tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tpi juga anak-anaknya. Begitulah setidaknya yang saya tangkap,

Ada bagian, dimana kita seorang wanita harus lebih sering untuk belajar memaafkan. Karena disitulah letak alasan pernyataan “menikah adalah ibadah.” Menuju jalan keikhlasan yang sempurna.

Buku ini cukup recommended bagi seseorang wanita yang hendak menikah, bagi seorang istri dan juga warning bagi seorang suami.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 30 November 2011 in Buku

 

Outsourcing : Etis gak sih?!

Beberapa waktu yang lalu sempet banget dipusingkan oleh pertanyaan serupa. Saya dan kelompok etbis sudah mempersiapkan makalah jauh-jauh hari sebelum giliran kami presentasi. H-1 presentasi, saya iseng-iseng ngeprint UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Karena malam itu saya insomnia berat dan gak tau kenapa, kok malah ambil UU yg sudah saya print dan kemudian saya baca.

Well, pukul 03.00 saya baru kelar baca UU. Ternyata…, saya salah paham.

Oke, mari dibahas satu persatu.

Apa itu outsourcing?

Pengertian outsourcing (Alih Daya) secara khusus didefinisikan oleh Maurice F Greaver II, pada bukunya Strategic Outsourcing, A Structured Approach to Outsourcing: Decisions and Initiatives, dijabarkan sebagai berikut :

“Strategic use of outside parties to perform activities, traditionally handled by internal staff and respurces.” Menurut definisi Maurice Greaver, Outsourcing (Alih Daya) dipandang sebagai tindakan mengalihkan beberapa aktivitas perusahaan dan hak pengambilan keputusannya kepada pihak lain (outside provider), dimana tindakan ini terikat dalam suatu kontrak kerjasama. (1999)

Garis terpentingnya disini adalah bahwa perusahaan melakukan pengalihan aktivitas perusahaan kepada pihak lain.

Kenapa harus melakukan outsourcing?

Persaingan dalam dunia bisnis antar perusahaan membuat perusahaan harus berkonsentrasi pada rangkaian proses atau aktivitas penciptaan produk dan jasa yang terkait dengan kompetensi utamanya. Dengan adanya konsentrasi terhadap kompetensi utama dari perusahaan maka akan dihasilkan sejumlah produk dan jasa memiliki kualitas yang memiliki daya saing di pasaran.

Dewasa ini pada iklim persaingan usaha yang makin ketat, perusahaan berusaha untuk melakukan efisiensi biaya produksi (production cost). Salah satu usahanya adalah dengan melakukan sistem outsourcing, dimana dengan sistem ini perusahaan dapat menghemat pengeluaran dalam membiayai sumber daya manusia (SDM) yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.

Garis besar tujuan perusahaan melakukan outsourcing adalah agar perusahaan dapat fokus pada kompetensi utamanya dalam bisnis sehingga dapat berkompetisi dalam pasar, dimana hal-hal intern perusahaan yang bersifat penunjang (supporting) dialihkan kepada pihak lain yang lebih profesional. Tujuan ini baik adanya, namun pada pelaksanaannya, pengalihan ini menimbulkan beberapa permasalahan terutama masalah ketenagakerjaan.

Outsourcing di Indonesia…

Dalam pasal 62 undang-undang no 13 thn 2003 tentang ketenagakerjaan

“Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis”

Dengan adanya pasal tersebut berarti pemerintah telah melegalkan adanya praktek outsourcing di Indonesia. Beberapa aturan telah ditetapkan untuk mendukung adanya praktek outsourcing. Seperti mengenai kesejahteraan pegawai outsourcing, keselamatan kerja pegawai, pemberian upah dan beberapa hal lain.

Sekilas, jika melihat beberapa aturan yang telah ditetapkan, tidak ada hal yang dirugikan dari pekerja. Namun pada kenyataannya banyak timbul masalah dikemudian hari. Para pekerja mulai berdemo, mempertanyakan gaji dsb.

Bagi pegawai outsourcing, hendaknya sejak awal penandatanganan kontrak dengan provider service(perusahaan penyedia jasa), harap memperhatikan hak dan kewajiban pekerja yang tercantum di dalamnya. Kerap kali para pekerja tanpa pikir panjang, langsung menandatangani kontrak.

Perlu diketahui, bahwa pekerja outsourcing kebanyakan tidak menerima gajinya 100%. Singkatnya, perusahaan pengguna jasa akan memberikan gaji+management fee kepada perusahaan penyedia jasa. Selanjutnya, perusahaan penyedia jasa akan memberikan gaji kepada pekerja setelah dipotong sekitar 15%-30%. Lalu untuk apa 15%-30% tsb, jika perusahaan penyedia telah menerima management fee?

Sebelum pekerja outsourcing siap digunakan di perusahaan pengguna, pekerja harus mengikuti semacam training untuk meningkatkan skillnya. Pemberian training ini dilakukan oleh perusahaan penyedia jasa. Jadi, 15%-30% gaji yang dipotong tsb untuk biaya training yang telah diberikan sebelumnya.

Kembali kepada masalah awal, sebenarnya outsourcing itu etis atau tidak?

Jawabnya etis tidak etis. Kok bisa?!

Kita harus kembali menelaah, sejauh mana ketiga belah pihak (pekerja, perusahaan penyedia, perusahaan pengguna) telah memenuhi kewajibannya masing-masing, sesuai dengan kontrak tertulis. Walaupun kadang pekerja lebih sering dirugikan, itu dikarenakan pekerja sering kurang teliti dalam penandatanganan kontrak di awal. Jika semuanya telah jelas diawal, dan ada kesepakatan dari semua pihak, outsourcing dapat berdampingan dengan etika yang ada.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 November 2011 in Kuliah

 

breaking dawn : mantan dan masa lalu

Akhirnya kesampaian nonton Breaking Dawn. Padahal selama ini g pernah nonton serial twiligh. Mungkin saya cuma satu-satunya cewek yang g ngikutin serial ini. Tapi serius, saya lebih tertarik dengan film action daripada film sejenis ini. Harry Potter aja juga nonton yang episode trakhir doang.

Oke, ceritanya, kemaren saya sempat nonton dengan, ehem..mantan(lebih baik langsung bilang mantan, daripada harus jawab “temen” padahal ada hubungan lebih dr itu). saya lupa, tepatnya saya yang janji nemenin, atau dia yang ngajak saya. setelah menentukan tempat dan waktu, akhirnya kita berangkat bareng. Sampai disana, kebetulan saya sudah menonton 3 dari 4 film yang ada, ya sudah, dengan polosnya saya bilang “nonton Breaking Dawn aja ya”

Kalau diingat-ingat, sebenarnya dia agak ragu-ragu sih. tapi karena dia tahu saya sudah menonton 3 judul dari 4 film yang ada, akhirnya dia mengiyakan.

Bioskop agak sepi, bukan agak, memang sepi. g lebih dari 20 orang yg nonton.

12.30 film dimulai.. dalam hati, saya berharap moga-moga “ngeh” sama ini film.

10 menit, 15 menit sampai bermenit-menit berikutnya, saya mulai keki.

Sepertinya saya salah pilih film. yup! Film yang super romantis gini harusnya ditemenin sama belle, bukan sama mantan. alhasil selama nonton, serasa nonton sendirian. kalo sama belle pasti sudah berkomentar betapa cakepnya Jacob dan betapa beruntungnya Bella Swan.

Nonton film romantis bukan hal yang salah sih, tapi kalau sama mantan, mungkin jadi lain ceritanya. Situasi dan kondisi yang berlaku kadang membuat kita sedikit bernostalgia dengan masa-masa indah bersama mantan. bahkan mungkin berfikir “go get him back” tapi apa iya semudah itu?

Kadang kesempatan untuk kembali itu (mungkin) ada. Tapi bagi saya, itu tidak mudah.

Baik saya maupun dia telah memilih untuk berjalan di jalan masing-masing. kalau pun sampai di tengah jalan, kami bertemu, anggaplah itu sebuah reuni, bukan untuk kembali.

mengutip kata salah seorang teman, mengenang masa lalu itu bukanlah hal yang salah, tapi setelah itu kamu harus menempatkannya kembali pada tempat yang tepat, yaitu pada sesuatu yang telah berlalu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 November 2011 in Sepenggal kisah